Selasa, 23 September 2008

TERRI K: SELF ESTEEM!!!

As a child, I was racked with loneliness, craving acceptance and approval. In everything I did, I had an underlying fear that people wouldn’t like me or that I wasn t good enough. I longed to know God but didn’t know how. I even placed an apple on my nightstand one evening and said to the Lord, "OK, God, if you’re real then eat this apple while I sleep!" God didn’t like apples, I guess.

As a young teenager, I went to a Christian camp one summer. On our way home, my friends and I stayed in a lakeside cabin, where we had access to a rowboat. The air, I remember, was so warm on my face, and the lake so still as we gently rowed along the shoreline.I saw the Lord stretching out His hands to me. He said, "Come and follow Me." Right there, in an old wooden rowboat, I gave Jesus control of my life and placed my future in His hands.
An amazing peace and joy filled my heart. I felt so free and could hardly wait to tell everyone at home what happened to me.But things did not turn out as I had expected. My problems didn’t all disappear. There was no "happily ever after" for a shy teen who had trouble fitting in.
My heart began to fill with bitterness, then anger, then hatred. Then fear. I trusted very few people–certainly no adults! Disillusioned, I rejected God. Anxiety gripped me for many years.
Marriage, I thought, would fill in the missing pieces of my life. Sadly, my husband looked to me for the same thing. In a relationship, two halves do not make a whole and neither of us were whole. In my pain, I began to seek God again. This time, there was no holding back. I pursued a strong, devoted relationship with Him. Then, after 12 years of marriage, my husband left me to raise three young children on my own. Though I faced an uncertain future as a single parent, I knew God was going to look after us, no matter what.

Two Bible verses became my lifeline for many years:
"I know the plans I have for you, [Terri]. Plans to prosper you and not to harm you. Plans to give you hope and a future" (Jeremiah 29:11).
"For your Maker is your husband–the Lord Almighty is his name–the Holy One of Israel is your Redeemer; he is called the God of all the earth" (Isaiah 54:5).
Today, I’m learning to trust God for everything. He has faithfully provided for all my family s needs and more in miraculous ways. He has given me security, love, peace, joy and purpose. I look forward to each day as He works in and through my life.
Take a look at your life. How would you describe it? Contented? Rushed? Exciting? Stressful? Moving forward? Holding back? For many of us it’s all of the above at times. There are things we dream of doing one day, there are things we wish we could forget. In the Bible, it says that Jesus came to make all things new. What would your life look like if you could start over with a clean slate?

Living with hopeIf you are looking for peace, there is a way to balance your life. No one can be perfect, or have a perfect life. But every one of us has the opportunity to experience perfect grace through a personal relationship with God through His Son, Jesus Christ.
You can receive Christ right now by faith through prayer. Praying is simply talking to God. God knows your heart and is not so concerned with your words as He is with the attitude of your heart. Here’s a suggested prayer:
Lord Jesus, I want to know you personally. Thank you for dying on the cross for my sins. I open the door of my life to you and ask you to come in as my Savior and Lord. Take control of my life. Thank you for forgiving my sins and giving me eternal life. Make me the kind of person you want me to be.

Does this prayer express the desire of your heart? You can pray it right now, and Jesus Christ will come into your life, just as He promised.
Is this the life for you?
If you invited Christ into your life, thank God often that He is in your life, that He will never leave you and that you have eternal life. As you learn more about your relationship with God, and how much He loves you, you’ll experience life to the fullest.

WITNESS FROM CHINA

ORANG KRISTEN DI CHINA

Keadaan yang Buruk di dalam Penjara Ruth duduk di atas lantai yang kotor. Perasaannya dipenuhi keinginan untuk memberontak karena bau busuk yang begitu menyengat dan meliputi udara di dalam sel.Ruth tidak bisa mengingat bau benda apa yang lebih busuk dari bau ruangan ini. Di dalam sel ini tidak ada toilet, bahkan tidak ada satu lubang kecil untuk pembuangan kotoran.Sedikitpun tidak tersedia air di tempat itu. Di Cina, khususnya selama masa kebrutalan revolusi kebudayaan, para tahanan benar-benar tidak diperhatikan.

Ruth bisa merasakan binatang-binatang kecil merayapi tubuhnya seperti laba-laba, kecoa, dan tikus. Nyamuk-nyamuk yang haus akan darah berdesingan di mana-mana. Kegelapan meliputi tempat itu. Begitu gelapnya sampai Ruth tidak bisa melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Pikirannya sedang melamunkan tiga orang anaknya, Daniel, 10, Joseph, 8, Mary, 5, yang ditinggal sendirian di rumah.Ruth bersama dengan suaminya, Michael, telah ditawan dan dimasukkan ke dalam sel tahanan.
Tragedi yang Mengenaskan

Dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada suara seorang teman yang bertanya, "Apakah kamu punya anak?"Mendengar pertanyaan yang seakan-akan mengerti pikiran dan perasaannya, Ruth menjawab, "Ya, ada tiga orang," jawabnya."Sebenarnya saya telah melahirkan empat orang anak, namun seorang diantaranya telah mati," lanjutnya. "Apa yang telah terjadi?" Ruth tidak bisa menjawab.Untuk sesaat air matanya mengalir membasahi pipinya."Tuhan, tolonglah aku untuk mempermuliakan Engkau dalam segala sesuatu," dia berdoa.

Akhirnya, dia mulai menceritakan kisah tragis yang menimpa anaknya ini. Dengan suara pilu dia berkata, "Peter," Ruth menyebut nama anaknya ini. "Tiga tahun yang lalu, ketika dia berumur 11 tahun, rumah kami digeledah dan didatangi oleh Tentara Merah (Red Guards).Ada beratus-ratus orang yang datang dan memeriksa tempat kami. Mereka telah mengetahui bahwa saya dan suami saya adalah seorang pemimpin dari banyak 'gereja rumah' di daerah itu.
Mereka menendang roboh pintu rumah kami, mengikat suami saya dan menggunduli kepala kami berdua. Mereka menodongkan senjata di atas kepala kami dan berteriak: "Di mana Alkitabmu? Di mana rekan-rekan yang bersamamu? Di mana kamu melakukan pertemuan?""Karena kami menolak untuk menjawab, mereka mulai menghancurkan perabot-perabot rumah kami dan seisi rumah kami diporak-porandakan. Untuk tiga hari tiga malam kami tidak diijinkan makan, minum atau tidur. Mereka melihat empat orang anak kami dan mereka membariskan mereka di atas bangku.Ketika anak kami kelelahan, mereka memukuli mereka dan memerintahkan untuk terus berdiri di atas bangku. Karena saya dan suami saya tidak mau menjawab saat ditanyai, maka tentara Red Guard's mulai menginterogasi anak-anak kami. Tetapi anak-anak kami juga menolak untuk bekerja sama. Mereka mengetahui bahwa hidup atau mati, mereka harus mengakui nama Tuhan Yesus - dan jangan pernah menyebutkan nama atau identitas rekan-rekan pekerja Kristen yang lain.

Dengan kasar mereka mulai memukuli anak kami lagi. Peter diseret keluar rumah dan giginya mulai dicabuti. Dia dipukuli hingga berdarah. Akhirnya mereka melemparkan dan meninggalkan tubuhnya yang sudah lumpuh di atas lantai. Suami saya dibawa dan dipekerjakan secara paksa di kamp militer pekerja berat."Saya segera membawa Peter ke rumah sakit. Dokter mengatakan tidak ada harapan karena anak ini telah banyak mengeluarkan darah. Saya diberitahu untuk mempersiapkan pemakaman baginya. Mereka juga telah memberikan surat-surat yang diperlukan untuk proses pemakaman.""Pihak yang berwewenang mengijinkan suami saya untuk meninggalkan kamp kerja paksa untuk sesaat dan menjenguk Peter di saat menit-menit terakhir sebelum Peter dijemput Tuhan. Ketika melihat ayahnya datang, Peter sangat gembira. 'Ayah dan ibu,' katanya, 'banyak orang yang mengenakan jubah hitam saat mereka mati, tetapi saya ingin berpakaian jubah putih, supaya saya kelihatan indah saat bertemu dengan Tuhan Yesus!' Kami menangis dan sangat berduka karena dia. Dan kami berdoa bersama-sama supaya nama Allah dipermuliakan."

"Karena musim hujan pada waktu itu maka semua jendela di tempat itu ditutup. Tetapi ketika kami selesai berdoa satu jendela terbuka dan ada angin sejuk berhembus masuk memenuhi ruangan. Roh penghibur datang memasuki hati kami.'Peter berbisik perlahan, 'Yesus telah datang untuk membawaku pulang. Selamat tinggal.' Wajahnya dipenuhi dengan sukacita. Bahkan dokter yang hadir saat itu digerakkan untuk berkomentar, 'Saya belum pernah melihat orang yang mati penuh kedamaian seperti ini.'""Ketika kami pulang ke rumah, anak-anak kami yang lebih muda dari Peter mengagetkan kami dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka berkata, 'Kami tidak bisa tidur, karena kami melihat kumpulan besar malaikat-malaikat di sekeliling rumah. Mereka membawa alat-alat musik instrumen dan menyanyi untuk kami.Mereka mengatakan bahwa mereka datang untuk membawa Peter bersama-sama dengan mereka ke sorga.'""Saya menjelaskan, 'Saudaramu telah pergi bersama-sama dengan Tuhan Yesus.' Dan mereka semua menangis.Peter begitu mengasihi saudara-saudaranya ini dan mereka juga membalas kasihnya dengan rasa sayang yang sangat besar."
Mengganti Kebencian dengan Kasih

Ada kesunyian yang panjang dalam sel itu. Tetapi kemudian Ruth mulai bisa mendengar suara tangisan yang berasal dari berbagai tempat di dalam sel gelap itu. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan kemarahan, "Terkutuklah orang-orang Red Guards! Kenapa mereka melakukan hal yang keji seperti ini?
Saya berharap bisa mencekik leher orang-orang ini dan membunuh mereka!" "Jangan! Jangan!" Ruth berteriak. Kalian jangan membenci mereka.Ini adalah dendam dan lingkaran kepahitan.Yesus mengajarkan supaya kita mengasihi semua orang bahkan mengasihi musuh-musuh kita. Setiap hari saya berdoa untuk tentara-tentara Red Guards ini, supaya mereka segera menemukan dan mengenal Yesus. Dengan cara yang sama, saya juga telah berdoa bagi kalian semua. Kalian semua juga kekasih-kekasih yang dicintai Tuhan Yesus."
"Hah!" Cetus seseorang dengan gerang. "Kalau Yesus sungguh-sungguh mengasihi saya, kenapa saya ada di sini, di dalam sel yang kumuh ini?"Ruth mulai menjelaskan bagaimana sel yang kotor ini sama seperti dosa mereka. Hanya salib Yesus yang sanggup menjembatani gap antara orang-orang berdosa dengan Allah yang kudus. Yang mereka butuhkan adalah mengakui dosa-dosa mereka dan meminta Yesus menjadikan mereka manusia yang baru.
Sekali lagi ada kesunyian yang panjang dalam penjara itu. Dan satu persatu anggota sel itu mulai bertekuk lutut di sampingnya, penuh tangisan mengakui dengan keras segala dosa-dosa mereka dan memohon Yesus menyucikannya. "Terima kasih Tuhan," Ruth berdoa. "Sungguh Engkau bisa mengubahkan segala sesuatunya menjadi baik!"
Kesan dari sumber:

" .....Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" [Luk 18:8]




Posted: 2007-01-26 08:37:30 (di sadur dari kumpulan dan cerita kesaksian kristen - Blog Toplist)